Kerajaan Sriwijaya

Negara Indonesia, sejak jaman dahulu menyimpan sejarah sejarah yang sangat menarik untuk kita kupas ataupun untuk sekedar mengetahuinya untuk lebih mengenal Indonesia dan juga agar rasa cinta kita kepada nusantara ini menjadi lebih besar dan lebih besar lagi. selain itu, mengetahui sejarah bangsa kita memang sangat menyenangkan sekaligus membuat kita terkagum kagum bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya dan menyimpan kisah kisah mengagumkan yang tidak semuanya bisa terungkap oleh manusia sekarang. Sejarah jaman dahulu juga baik untuk kita ketahui agar sedikit banyak dijadikan pelajaran untuk mengambil hikmah dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.

Salah satu kerajaan tertua di Indonesia yang memberikan pengaruh yang besar bagi nusantara adalah Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan yang berdiri di Sumatera ini memiliki kekuasaan yang membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan. Nama Kerajaan Sriwijaya sendiri memiliki arti “kemenangan yang gilang-gemilang”. awal mula keberadaan Kerajaan Sriwijaya adalah pada sekitar abad 7 saat pendeta Budha asal Cina yang bernama I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan disana. Selain itu, bukti adanya Kerajaan Sriwijaya ini juga adalah dengan ditemukannya Prasasti Kedukan Bukit di Palembang.

Kerajaan Sriwijaya sangat terkenal dengan kemajuannya sebagai kerajaan maritim yang disebabkan oleh: letaknya yang strategis, runtuhnya kerajaan Funan (Kamboja), dan armada lautnya yang kuat. Selain itu, runtuhnya kerajaan Tarumanegara juga diduga akibat ekspansi Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya juga dikabarkan menaklukan Kerajaan Minanga (Melayu) di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Jayanasa. Kerajaan Sriwijaya mencapai masa keemasan pada masa raja Balaputra Dewa.

Pada tahun 1017-1024, Kerajaan Sriwijaya diserang Colamandala yang mengakibatkan daerah Sriwijaya seperti Ligor, Kra, Kelantang, Pahang, Jambi, dan Sunda melepaskan diri. Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran yang diperkirakan akibat dari pengganti Balaputra Dewa yang lemah, ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 dari Singasari, daerah Sriwijaya melepaskan diri, dan Sumpah Palapa Majapahit.

Prasasti dan Candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya:

Prasasti Talang Tuwo, berisi tentang taman Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk kemakmuran semua makhluk.
Prasasti Telaga Batu: berisi kutukan kutukan seram untuk siapa saja yang berbuat kejahatan dan tidak taat kepada raja.
Prasasti Kota Kapur dan Karang Bahari, berisi tentang permintaan kepada Dewa yang menjaga Sriwijaya dan untuk menghukum semua orang yang bermaksud jahat terhadap Sriwijaya.
Prasasti Kedukan Bukit, berisi bahwa Kerajaan Minanga takluk di bawah Sriwijaya pada masa Raja Dapunta Hyang.
Prasasti Nalanda, berisi tentang bahwa Balaputra Dewa merupakan keturunan raja Mataram Kuno Samaratungga.
Candi Muara Takus.
Kerajaan Sriwijaya | Maia Dianti | 5